Danau Laut Tawar merupakan sebuah danau dan juga sebuah kawasan wisata yang lokasinya terletak di Dataran Tinggi Gayo, di Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam. Suku Gayo biasa menyebutnya dengan nama Danau Lut Tawar. Luasnya kira-kira sekitar 5.472 hektar dengan panjang kurang lebih 17 km dengan lebar 3,219 km.
Volume airnya kurang lebih sekitar 2.537.483.884 m³ (2,5 triliun liter).Bagi wisatawan lokal di Provinsi Aceh, danau yang terletak pada ketinggian 1.250 mdpl merupakan salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi saat libur. Namun, wisatawan dari luar Aceh baru ramai menikmati keindahan danau ini setelah Aceh terbebas dari konflik bersenjata pada Agustus 2005 silam.
Pagi hari, menjelang matahari terbit, pengunjung akan disuguhi pemandangan nelayan yang sedang mencari ikan depik (ikan khas Danau Lut Tawar) menggunakan sampan, ikan-ikan tersebut juga dijual dengan harga murah oleh nelayan-nelayan yang menggantungkan hidupnya dari Danau Lut Tawar.
Berkunjung ke Danau Laut Tawar, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam yang ditawarkan danau nomor tiga terluas di Indonesia setelah Danau Toba dan Singkarak, jika berkunjung pada waktu yang tepat, wisatawan akan dapat menikmati berbagai macam penampilan budaya masyarakat Gayo yang hidup di dataran tinggi provinsi paling barat Indonesia.
Festival
Kegiatan-kegiatan kebudayaan masyarakat lokal biasanya akan banyak dilaksanakan saat pelaksanaan Festival Danau Lut Tawar yang dilaksanakan setiap pertengahan tahun, berbagai kegiatan yang ditawarkan kepada pengunjung misalnya perlombaan tarian tradisional yang dilaksanakan semalam suntuk.
Wisatawan akan disuguhkan tarian-tarian dari berbagai daerah di daerah tersebut yang saling berlomba semalam suntuk. Tarian yang cukup terkenal di daerah ini adalah Didong, Saman Gayo, dan berbagai tarian tradisional lainnya.
Kegiatan lainnya yang menarik untuk disaksikan wisatawan adalah pacuan kuda tradisional. Dalam kegiatan ini, joki cilik akan memacu kudanya untuk dapat mencapai finis lebih dahulu. Pacuan kuda tanpa pelana ini semakin menarik untuk disaksikan karena tidak dilaksanakan di lapangan, melainkan kuda akan berlari kencang di dalam danau.
Percikan air Danau Laut Tawar saat kuda berlari akan semakin membuat pacuan kuda tersebut tambah menarik untuk disaksikan. Ribuan wisatawan biasanya akan memenuhi pinggir Lut Tawar untuk menyaksikan pacuan kuda tersebut.
Berburu Kopi Arabica Terbaik Dunia
Selain menikmati keindahan Danau Lut Tawar dan budaya masyarakat Gayo, di dataran tinggi Aceh ini, wisatawan juga dapat berburu berbagai jenis kopi Arabica terbaik dunia. Bahkan, banyak warung kopi telah di buka untuk memanjakan lidah wisatawan.
Wisatawan juga dapat berkunjung langsung ke kebun-kebun kopi milik warga, untuk melihat langsung tangan-tangan dingin warga lokal yang memetik kopi yang telah matang.
Wisatawan juga dapat berkunjung ke pabrik-pabrik kopi yang terdapat di sekitar Danau Lut Tawar. Di sana, wisatawan dapat melihat kaum perempuan yang bekerja memisahkan biji kopi kualitas ekspor dan yang dijual untuk produsen kopi lokal di Indonesia.

“Berbicara Gayo, maka harus dilibatkan kopi, karena sebagian besar masyarakat Gayo hidup dari kebun kopi. Jika ingin menikmati kopi kualitas terbaik, datang saja ke pusatnya di Aceh Tengah,” ungkap Khalisuddin.
Meskipun kopi Arabica Gayo merupakan kopi terbaik dunia, jika wisatawan datang langsung ke Aceh Tengah, maka harganya akan jauh lebih murah jika di beli di luar Aceh Tengah, wisatawan dapat menikmati kopi luwak organik yang harganya tidak sampai Rp 50.000 per gelas.
sumber : http://www.sinarharapan.co/






.jpg)




